Kamis, 15 Desember 2011

MAKALAH Pengaruh Kombinasi NPK dan Pupuk Kandang terhadap Sifat Tanah dan Pertumbuhan serta Produksi Tanaman Bayam


MAKALAH
Pengaruh Kombinasi NPK dan Pupuk Kandang terhadap Sifat Tanah dan Pertumbuhan serta Produksi Tanaman Bayam
Dosen Pengampu : M. Saipul Hayat, M.Pd.



Oleh :

Fajar Riardi Prambudi        08320311

JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN
ILMU PENGETAHUAN ALAM
IKIP PGRI SEMARANG
2011
Pengaruh Kombinasi NPK dan Pupuk Kandang terhadap Sifat Tanah dan Pertumbuhan serta Produksi Tanaman Bayam

PENDAHULUAN
            Pertambahan jumlah penduduk yang terus meningkat dan semakin meningkatnya kesadaran masyarakat akan kebutuhan gizi makanan, akan mendorong minat masyarakat untuk mengkonsumsi sayur-sayuran. Dengan demikian tentu diharapkan permintaan pasar akan sayur-sayuran, saat ini akan terus meningkat, khususnya di daerah perkotaan. Meningkatnya minat masyarakat terhadap sayursayuran, khususnya bayam dapat memberikan motivasi yang kuat bagi petani untuk mengusahakan dan membudidayakan sayuran bayam secara intensif
.
Tanah-tanah di daerah tropik termasuk di indonesia pada umumnya memiliki kandungan bahan organik rendah dan miskin unsur hara (Sanchez,1982). Tanah miskin bahan organik akan berkurang kemampuan daya sangga terhadap pupuk, sehingga efisiensi pupuk anorganik rendah, karena sebagian besar pupuk akan hilang dari lingkungan perakaran (Widjaya Adi et al., 1998). Tanaman sayur-sayuran pada umumnya akan tumbuh baik pada tanah dengan kandungan bahan organik (humus) yang tinggi, tidak tergenang, memiliki aerasi dan drainasi yang baik (Haryanto et al., 2006). Kandungan bahan organic yang rendah merupakan kendala utama dalam produksi sayur-sayuran. Oleh karena itu untuk mendapatkan produksi sayur-sayuran yang tinggi, disamping pemberian pupuk kimia juga harus dilakukan pemberian pupuk organik.
Kelebihan pemakaian dan atau tidak tepatnya waktu pemupukan dapat merusak tanaman dan mengakibatkan tidak efisiennya pemakaian input. Secara umum, banyak petani menggunakan pupuk urea (nitrogen) pada tanaman padi lebih banyak daripada pupuk lainnya, karena pupuk nitrogen relatif murah harganya dibanding pupuk lain. Pemakaian pupuk yang tidak seimbang secara terus menerus pada tanaman padi atau tanaman lainnya dapat memperburuk degradasi tanah dan mengakibatkan meningkatnya masalah hama dan penyakit. Tanggapan tanaman terhadap pupuk Nitrogen sangat cepat yang efeknya dapat segera terlihat pada warna daun bayami. Sebagian besar petani cendrung beranggapan bahwa tanaman bayam yang berwarna hijau gelap akan memberikan hasil panen yang tinggi. Untuk menentukan warna hijau yang tepat agar mendapatkan hasil yang maksimum digunakan bagan warna daun (LCC = Leaf Color Chart) yang sederhana dan murah yang dapat membantu petani menentukan intensitas warna daun bayam, sehingga petani dapat menentukan kebutuhan pupuk nitrogen yang harus diaplikasikan. Metode ini sangat membantu petani dalam aplikasi pupuk Nitrogen sesuai dengan yang dibutuhkan tanaman.
Disamping pupuk N, pupuk P dan K pada program intensifikasi bayam telah menyebabkan penimbunan fosfat dan kalium pada tanah sawah yang menyebabkan efisiensi pupuk menurun. Penurunan efisiensi ini dapat disebabkan oleh banyak faktor, namun faktor yang utama adalah hubungan tanah dan tanaman. Berbagai analisis dan asumsi terjadinya pelandaian produktivitas/penurunan efisiensi pupuk adalah karena terkurasnya hara lain sebagai akibat pemupukan N dan P berlebihan. Untuk melaksanakan intensifikasi padi sawah diperlukan rakitan teknologi pemupukan yang lebih efisien dan mudah diadopsi petani.

Mengingat ketersediaan pupuk kimia pada saat sekarang ini semakin sulit, dan harganya semakin mahal, akibat adanya pengurangan subsidi oleh pemerintah, maka penggunaannya harus diusahakan seefisien mungkin. Pemupukan yang kurang dari kebutuhan tanaman akan menjadikan tidak optimalnya produksi. Kelebihan pemupukan juga berarti pemborosan dan dapat menyebabkan tanaman rentan terhadap serangan hama dan penyakit, serta dapat menimbulkan pencemaran lingkungan. Peningkatan efisiensi pemupukan dapat dilakukan dengan pemberian bahan organik. Salah satu sumber bahan organik yang banyak tersedia disekitar petani adalah pupuk kandang.



RUMUSAN MASALAH
  1. Bagaimana pengaruh pemberian kombinasi NPK dan pupuk kandang terhadap sifat tanah pada tanaman bayam?
  2. Bagaimana kecepatan pertumbuhan tanaman tomat dengan perlakuan pemberian kombinasi NPK dan pupuk kandang?
  3. Dengan kombinasi pupuk berkosentrasi berapa tanaman tomat dapat menghasilkan hasil panen yang paling maksimal?
  4. Bagaimana produktifitas tanaman tomat setelah diberi kombinasi NPK dan pupuk kandang?
BATASAN MASALAH
  1. Subyek penelitian adalah pupuk NPK dan pupuk kandang yang digunakan untuk proses pemupukan.
  2. Obyek penelitian adalah tanaman tomat yang diberi 5 kosentrasi kombinasi pupuk yang berbeda.
  3. Parameter yang digunakan dalam penelitian adalah sifat tanah, pertumbuhan dan produktifitas tanaman bayam.
TUJUAN PENELITIAN
  1. Untuk mengetahui produktifitas tanaman tomat dengan pemupukan berbeda kosentrasi kombinasi antara NPK dan pupuk kandang.
  2. Untuk mengetahui sifat tanah setelah pemupukan berbeda kosentrasi kombinasi antara NPK dan pupuk kandang.
  3. Untutk mengetahui kecepatan pertumbuhan tanaman bayam.
MANFAAT PENELITIAN
  1. Sebagai sumber pengetahuan bagi peneliti.
  2. Memberi informasi kepada masyarakat bahwa penggunaan kombinasi pupuk NPK dan pupuk kandang lebih efisien.
  3. Mengurangi pupuk anorganik dalam pembudidayaan tanaman bayam.
  4. Untuk meningkatkan produksi tanaman bayam dengan kombinasi dua pupuk.
HIPOTESIS
            Dengan adanya penelitian ini diharapkan hasil produksi tanaman bayam akan meningkat karena dengan adanya pemupukan yang dilakukan antara kombinasi dengan pupuk kandang, mengapa demikian karena pupuk NPK selain menyuburkan tanah juga berfungsi untuk proteksi terhadap penyakit tanaman bayam. Disisi lain, pupuk kandang punya kelebihan diantaranya tidak memberi efek negative ( hilangnya unsure hara pada tanah ) seperti pemberian pupuk NPK. Sehingga sifat tanah akan stabil kecapatan tumbuh tanaman bayam akan cepat dan produktifitasnya juga akan lebih baik.


KAJIAN TEORI
Pemberian pupuk kandang dapat mengurangi penggunaan dan meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk kimia (Ma et al., 1999; Martin et al., 2006) juga akan menyumbangkan unsur hara bagi tanaman serta meningkatkan serapan unsur hara oleh tanaman (Wigati et al., 2006; Faesal et al., 2006; Taufiq et al.,2007). Disamping itu pemberian pupuk kandang juga dapat memperbaiki sifat fisika tanah, yaitu kapasitas tanah menahan air, kerapatan massa tanah, dan porositas total (Slameto, 1997), memperbaiki stabilitas agregat tanah (Widjaya Adi et al., 1998) dan meningkatkan kandungan humus tanah (Wigati et al., 2006) suatu kondisi yang dikehendki oleh tanaman sayur-sayuran. Namun pada umumnya untuk meningkatkan produksi tananam hortikultura memerlukan bahan organik dengan dosis tinggi.
Suwandi dan Azirin (1986) menyatakan bahwa untuk mendapatkan hasil kentang yang tinggi membutuhkan pupuk kandang sebesar 20-30 Mg ha-1. Pemberian pupuk kandang dapat meningkatkan produksi secara nyata pada bawang merah dengan dosis 10-30 Mg ha-1 (Zubaidah dan Kari,1997), caisim dengan dosis 20 Mg ha-1 (Syukur, 2005). Akibatnya penggunaan pupuk kandang dinilai banyak pihak kurang efisien dan tidak ekonomis karena volume aplikasinya tinggi. Namun Sunarlim et al. (1999) mendapatkan bahwa total serapan N terbaik oleh tanaman tomat dan cabe merah didapatkan pada perlakuan kombinasi urea dan kompos yang berasal dari kotoran ayam. Adil et al. (2006) mendapatkan bahwa untuk tanaman bayam serapan N dan efisiensinya tertinggi didapatkan pada perlakuan kombinasi kompos kotoran ayam dan urea. Nyinareza dan Snapp (2007) mendapatkan bahwa pemberian pupuk kandang ayam dapat meningkatkan produksi tomat, dan meningkatkan efisiensi serapan N sampai 20% pada percobaan lapang dan 35% pada percobaan pot.
Selanjutnya dikatakan bahwa kombinasi penggunaan pupuk kandang ayam dan pengurangan pupuk anorganik menghasilkan ketersediaan N yang tinggi dan pelepasan NO3 yang konstan selama masa pertanaman, yang menunjukkan terjadinya keselarasan antara ketersediaan dan serapan N oleh tanaman tomat. Oleh karena itu perlu diupayakan untuk meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk anorganik melalui pengelolaan pupuk terpadu, yaitu dengan mengkombinasikan antara pupuk organik dan pupuk kimia yang tepat, sehingga biaya penggunaan pupuk dapat ditekan, tetapi tingkat produksinya tetap tinggi.
Perkembangan akar tanaman yang sangat pesat disebabkan oleh perbaikan sifat fisika tanah (Slameto, 1997; Wigati et al., 2006) akibat dari meningkatnya ketersediaan unsur hara N dan P dan K serta kandungan asam humik dan asam fulvik (humus tanah). Karena pengaruh perlakuan terhadap panjang akar tidak nyata, maka hal ini berarti peningkatan bobot akar tersebut disebabkan semakin banyaknya jumlah akar. Jumlah akar yang semakin banyak akan meningkatkan kemampuan tanaman untuk menyerap unsur hara oleh tanaman (Wigati et al., 2006; Faesal et al., 2006; Taufiq et al., 2007), akhirnya efisiensi serapan unsur hara dari pemberian pupuk buatan meningkat. Sunarlim et al. (1999) mendapatkan bahwa total serapan N terbaik oleh tanaman tomat dan cabe merah didapatkan pada perlakuan kombinasi urea dan kompos yang berasal dari kotoran ayam.
Adil et al. (2006) mendapatkan bahwa serapan N oleh tanaman bayam serapan N dan efisiensinya tertinggi didapatkan pada kombinasi kompos kotoran ayam dengan urea. Nyinareza dan Snapp (2007) mendapatkan bahwa pemberian pupuk kandang dapat meningkatkan produksi tomat. Serapan N oleh tanaman pada perlakuan kombinasi pupuk kandang dan pupuk anorganik tidak berbeda dengan perlakuan pemberian pupuk N anorganik saja. Dia menjelaskan bahwa meningkatnya produksi tersebut disebabkan oleh serapan unsur hara lainnya, yaitu P, K, Ca, dan Mg yang lebih tinggi pada perlakuan pupuk kandang dibandingkan dengan tanpa pemberian pupuk kandang. Namun demikian, efisiensi serapan N oleh tanaman tomat pada perlakuan pupuk kandang lebih tinggi (62%) daripada tanpa pupuk kandang (52%). Ma et al. (1999) mendapatkan bahwa peningkatan serapan N oleh tanaman akibat dari pemberian pupuk kandang disebabkan oleh menurunnya pencucian NO3 -1.

Kemasaman tanah, C-total, dan N –total
Pernyataan Halvin et al. (1999) bahwa pemberian pupuk urea dapat menurunkan pH tanah dan sebaliknya Slameto (1997) dan Syukur dan Nur Indah (2006) mendapatkan bahwa pemberian pupuk kandang dapat meningkatkan pH tanah. Eghball (2002) mendapatkan bahwa pemberian pupuk N dalam bentuk NH4NO3 dapat menurunkan pH tanah secara nyata, tetapi penurunan pH tersebut semakin berkurang dengan semakin meningkatnya dosis pupuk kandang yang diberikan.

Fosfor tersedia, K-dd, Asam Humik dan Asam Fulvik
Syukur dan Nur Indah (2006) juga mendapatkan bahwa pemberian pupuk kandang dapat meningkatkan kandungan asam humik dan asam fulvik. Tampaknya perbaikan terhadap sifat tanah tersebut lebih banyak disebabkan oleh pengaruh meningkatnya kandungan asam humik dan asam fulvik. Sanchez (1982) menyatakan bahwa bahan organik tanah secara langsung dapat berfungsi sebagai sumber unsur hara, terutama N, S, dan sebagian P, serta unsur mikro. Secara tidak langsung bahan organik tanah berperan dalam meningkatkan kesetabilan agregat, kapasitas menahan air, kapasitas tukar kation (KTK), daya sangga tanah, serta menurunkan jerapan P oleh tanah.
Asam humik dan asam fulvik ini sangat reaktif di dalam tanah karena muatan negatifnya yang sangat tinggi, sehingga dapat menyumbangkan KTK tanah. Stevenson (1982) menyatakan bahwa sekitar 20-70% KTK pada berbagai tanah lapisan atas disumbangkan oleh asam humik dan asam fulfik. Wigati et al. (2006) mendapatkan bahwa pemberian pupuk kandang dapat meningkatan KTK tanah. Peningkatan KTK tanah akan meningkatkan kemampuan tanah untuk mengikat K, sehingga K akan terhindar dari pencucian (Ma et al., 1999). Peningkatan asam humik dan asam fulvik yang tinggi juga akan menyelimuti Fe/Al sehingga mengurangi jerapan P (Sanchez, 1982; Halvin et al., 1999). Akhirnya akibat dari pemberian pupuk kandang akan meningkatkan P tersedia dan Kdd. Hal yang sama juga didapatkan oleh Ma et al. (1999) dan Nyinareza dan Snapp (2007). Adil et al. (2006) menyimpulkan dari percobaan pot, bahwa kompos dari kotoran ayam dan sapi diberikan hanya cukup untuk tanaman tomat yang berumur 3 bulan satu kali musim tanam saja, penanaman pada musim berikutnya memberikan hasil yang kurang baik. sedangkan untuk tanaman kangkung, pemberian kompos baik dari pupuk kandang sapi maupun pupuk kandang ayam dapat digunakan sampai 3 kali penanaman atau sekitar 4 bulan.










METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan dalam rancangan acak kelompok (RAK) dengan 3 ulangan. Perlakuan terdiri 5 macam, yaitu:
K0 = NPK 100% + pupuk kandang 0%
K1 = NPK 75% + pupuk kandang 25%  
K2 = NPK 50% + pupuk kandang 50%
K3 = NPK 25% + pupuk kandang 75%
K4 = NPK 0 % + pupuk kandang 100%
Pupuk kandang yang digunakan adalah kotoran ayam.


KESIMPULAN
  • Pemberian pupuk kandang ayam dapat mengurangi pengunaan NPK. Pemberian NPK dikombinasikan dengan pupuk kandang memberikan hasil yang labih baik daripada NPK 100% atau pupuk kandang saja.
  • Pemberian pupuk kandang ayam dengan dosis lebih besar pengaruhnya dapat meningkatkan C-total, N-total, P dan K tersedia














DAFTAR PUSTAKA
  • Adil, H.H., N. Sunarlim, dan I. Rostika. 2006. Pangruh tiga jenis pupuk nitrogen terhadap tanaman sayuran. Biodiversitas 7 (1): 77-80.
  • Halvin, J.L. , S.M. Tisdale., W.L. Nelson, and J.D. Beaton. 1999. Soil Fertility and Fertilizer. An Introduction to Nutrient Management. Prentice Hall, Inc. 499 p.
  • Haryanto, E., T. Suhartini, E. Rahayu, dan H.H. Sunarjono. 2006. Sawi dan Selada. Penebar Swadaya. Jakarta.112 p.
  • Suwandi dan A. Azirin. 1986. Penelitian pemupukan berimbang dalam meningkatkan produksi dan mutuhasil hortikultura (sayuran). Prosiding Lokakarya Efisiensi Penggunaan Pupuk. Cipayung, 6-7 Agustus 1986. PPT, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Departemen Pertanian, pp. 343-368.
  • Syukur, A. 2005. Pengaruh pemberian bahan organic terhadap sifat-sifat tanah dan pertumbuhan caisim di tanah pasir pantai. J. I. Tanah Lingk. 5 (1): 30-38.
  • Syukur, A dan M. Nur Indah. 2006. Kajian pengaruh pemberian macam pupuk organik terhadappertumbuhan dan hasil tanaman jahe di Inceptisol, Karanganyar. J. I. Tanah Lingk. 6 (2): 124-131.
  • Wigati, E.S., A. Syukur, dan D.K.Bambang. 2006. Pengaruh takaran bahan organik dan tingkat kelengasan tanah terhadap serapan fosfor oleh kacang tunggak di tanah pasir pantai. J. I. Tanah Lingk. 6 (2): 52-58.
  • Zubaidah, Y dan Z. Kari .1997. Tanggap bawang merah terhadap pupuk kandang dan pupuk nitrogen. In: J. Lumbanraja, Dermiyati, S.B. Yuwono, Sarno, Afandi, A. Niswati, Sri Yusnaini, T. Syam, daan Erwanto (Eds.). Prosiding Sem. Nas. Identifikasi Masalaah Pupuk Nasional dan Standarisasi Mutu yang Efektif. Unila-Bandar Lampung, 22 Desember 1997, pp. 53- 60.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar